Sekda Natuna Buka Diskusi Publik Kajian Risiko Bencana Kab. Natuna Tahap 1

Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna, Boy Wijanarko Varianto membuka kegiatan Diskusi Publik Kajian Resiko Bencana (KRB) Kabupaten Natuna tahap 1, bertempat di Ruang Rapat Kantor Bupati Natuna, Jalan Batu Sisir Bukit Arai, Ranai, kamis (23/11) pagi.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut diantaanya para anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan atau mewakili Organisasi Perangkat Daerah baik secara langsung maupun daring.

Dalam sambutannya, Boy Wijanarko menyampaikan bahwa Dokumen KRB dirasa sangat penting, terutama dalam hal upaya mempelajari, menyikapi dan mendeteksi secara dini indikasi terjadinya bencana.

Kedepan diharapkan dokumen tersebut bukan hanya dimiliki kecamatan yang berada di Pulau Bunguran Besar, melainkan seluruh kecamatan yang berada dipulau terpisah.

Hal ini akan sangat penting untuk dilakukan, mengingat dokumen KRB maupun potensi siaga bencana juga merupakan salah satu syarat pemenuhan status Geopark yang sudah dimiliki Kabupaten Natuna saat ini.

Kepada narasumber dan pihak penyelenggara terkait, Boy menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih. Dengan adanya kajian menyeluruh terkait penanganan bencana di daerah, dirinya berharap berbagai kejadian dalam kategori bencana dapat ditangani secara lebih cepat, terkoordinir dan pemulihan kondisi juga dapat dilakukan lebih cepat.

Dalam pemaparan yang disampaikan salah satu narasumber dari Fakultas Geologi Universitas Padjajaran- Bandung, Nour Chaidir menjelaskan beberapa tujuan dari kegiatan dimaksud, diantaranya pengenalan indikasi terjadinya bencana yang dihubungkan dengan bentuk geografis dan geologi.

Hal ini menurutnya akan sangat bermanfaat bagi penanganan dan koordinasi lapangan untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, meminimalisir korban jiwa dan lain sebagainya.

Menurut Nour Chaidir, dilihat dari aspek geografis, Kabupaten Natuna cenderung akan dihadapkan dengan beberapa jenis bencana, diantaranya banjir, banjir bandang, gelombang ekstrim, longsor, abrasi cuaca ekstrim, angin puting beliung dan kebakaran lahan dan hutan.

Untuk pencegahan atas kemungkinan bencana diatas, dirinya sangat merekomendasi beberapa kegiatan pencegahan, diantaranya penanaman pohon pencegah abrasi, pembenahan saluran air pembuangan dan penghijauan. (Pro_kopim/Endang)

RILIS PERS, Nomor : 148170 /PRO_KOPIM/2023